Oleh : Hasanudin*
Info Tol (9/4): Suatu pagi di hari Jumat dini hari, saya mendengar kabar mengejutkan. Tim penambal lubang jalan tol kita diseruduk truk pengangkut pasir yang oleng dan menerobos area kerja. Lima orang tewas dan puluhan lain-nya luka berat. Supir truk yang naas tersebut melarikan diri.
Petugas layanan jalan tol, tak hanya petugas lalin dan pengumpul tol (pultol), petugas pemeliharaan pun, setiap hari harus berhadapan dengan risiko kerja yang sangat tinggi. Mereka adalah ujung tombak layanan, merah birunya raport layanan Jasa Marga dimata pengguna jalan sangat bersandar kepada kinerja para petugas lapangan ini.
Dalam beberapa hari terakhir ini, paska insiden pintu tol Senayan, para petugas layanan harus bekerja ekstra keras. Dua hari sebelum kejadian yang menewaskan lima petugas penam-bal lubang, di bawah guyuran hujan lebat, saya menyaksikan para petugas pemeliharaan menggotong karung-karung pasir, memompa luapan air agar para pengguna jalan dapat melenggang di jalan tol bandara.
Selisih sehari sebelumnya, para petugas lapangan kita dengan sukarela membantu tetangga kita ruas tol BSD yang terendam banjir. Atas kejadian banjir ini, Direktur Utama kita, Adityawarman sempat ditelpon Menteri Dahlan Iskan, dijelaskan bahwa ini bukan ruas jalan tol Jasa Marga.
Kita semua bekerja keras! Ada sebagian kawan saya yang mengkritik cara kerja saya : “Seharusnya jangan hanya bekerja keras dong, tapi bekerja lah dengan cerdas”
Ketika para petugas lapangan sedang bekerja keras pagi, siang, sore hingga malam hari dan beralih ke pagi berikutnya, terkadang nasihat bekerja secara cerdas, meskipun itu benar di telinga terasa sungguh menyakitkan.
Bahwa seolah- olah para petugas lapangan ini dalam bekerja cuma mengandalkan otot saja.
Menanggapi kritikan seperti itu saya hanya bisa tersenyum saja, sambil berkata dalam hati : “besok pagi, di sudut ruang kerja ku, akan kutulisi visi kerja Thomas Alva Edison (penemu bola lampu pijar) : keberhasilan itu ditentukan oleh one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration”. Luar biasa! Satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat, alias kerja keras.
Di tengah kejadian bertubi-tubi di jalan tol kita mulai dari kecaman publik atas merahnya gardu tol, genangan air dan kecelakaan yang menewaskan lima petugas layanan, mata saya berkaca-kaca : “saya belum banyak berbuat untuk kemajuan operasional jalan tol kita”
Saya belajar memahami berbagai persoalan, mengenai kurangnya tenaga pultol yang menyebabkan biaya lembur petugas layanan semakin melejit. Dan ini berakibat pada beban operasi yang dianggap kelewat boros bila dibandingkan operasi lain. Hati saya merasa ciut.
Di malam hari, ketika mengalami kesulitan tidur, saya acapkali berkeliling sekitar tol Jabotabek. Saya melihat banyak hal. Beberapa petugas sedang menyiapkan rambu-rambu kerja, petugas yang lain sedang mencatat tonase aspal yang harus digelar. Saya juga melihat beberapa pultol di pintu transaksi menunggu kendaraan yang tak kunjung datang . Waktu telah menunjukkan pukul 24.00. semuanya sedang bekerja dan saya tidak mau menganggu kerja mereka.
Saya pun melenggang pulang. Di perjalanan menuju ke rumah, perasaan ciut saya sontak hilang, hati saya berbunga-bunga. Namun tiba-tiba, kendaraan yang saya kemudikan terperosok lubang di jalan tol (ups!). Tidak apa-apa, sekali ini saya tidak apa-apa ya. Karena saya yakin urusan lubang sebentar lagi selesai juga.
Jasa Marga akan menjadi besar karena etos kerja petugas layanannya. Hanya memberi tak harap kembali. Sebuah komitmen terhadap penyempurnaan pelayanan tanpa henti.
*) Penulis adalah Direktur Operasi Jasa Marga